TAFSIR SURAH AL-FATIHAH AYAT 5
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿ ٥
Tunjukilah kami pada jalan yang lurus
Setelah pujian dipanjatkan terlebih dahulu kepada Allah sesuailah bila diiringi dengan permohonan, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis di atas, yaitu:
فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Separo untukKu dan separo lainnya buat hambaKu, serta bagi hambaKu apa yang dia minta.
Merupakan suatu hal yang baik bila seseorang yang mengajukan permohonan kepada Allah. terlebih dahulu dia memujiNya, setelah itu baru memohon kepadaNya apa yang dia hajatkan.
karena itulah Allah memberi mereka petunjuk cara ini.
Adakalanya permohonan itu diungkapkan oleh si pemohon melalui kalimat berita yang mengisahkan keadaan dan keperluan dirinya, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Nabi Musa dalam firman-Nya:
رَبِّ إِنِّي لِما أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (Al-Qashash : 24)
Tetapi adakalanya permohonan itu didahului dengan menyebut sifat Allah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yunus :
لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim. (Al-Anbiya: 87)
Hidayah yang dimaksud dalam ayat ini adalah bimbingan dan taufik. Lafadz hidayah ini adakalanya muta'addi dengan sendirinya. sebagaimana yang terdapat dalam ayat di bawah ini:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Al-Fatihah: 5)
Maka hidayah mengandung makna "berilah kami ilham atau berilah kami taufik, atau anugerahilah kami, atau berilah kami", sebagaimana yang ada dalam firmanNya:
وَهَدَيْناهُ النَّجْدَيْنِ
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10)
yang dimaksud ialah "Kami telah menjelaskan kepadanya (manusia) jalan kebaikan dan jalan keburukan".
Adakalanya hidayah muta'addi dengan الی seperti yang ada Dalam firman-Nya:
اجْتَباهُ وَهَداهُ إِلى صِراطٍ مُسْتَقِيمٍ
Allah telah memilihnya dan memberinya petunjuk ke jalan yang lurus. (An-Nahl: 121)
Kemudian ayat 6 ini dijawab oleh Allah dengan surat al-an'am ayat 153
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan sesungguhnya ini (Qur'an) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan/washiat Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.
Apabila dikatakan kepadamu, "Mengapa seorang mukmin dituntut untuk memohon hidayah dalam setiap salat dan juga dalam keadaan lainnya, padahal dia sendiri berpredikat sebagai orang yang beroleh hidayah? Apakah hal ini termasuk ke dalam pengertian meraih apa yang sudah teraih?"
Sebagai jawabannya dapat dikatakan, "Tidak." Seandainya seorang hamba tidak memerlukan minta petunjuk di siang dan malam harinya, niscaya Allah tidak akan membimbingnya ke arah itu. Karena sesungguhnya seorang hamba itu selalu memerlukan Allah. Dalam setiap keadaanya. agar dimantapkan hatinya pada hidayah dan dipertajam pandangannya untuk menemukan hidayah, serta hidayahnya bertambah meningkat dan terus-menerus berada dalam jalan hidayah. Sesungguhnya seorang hamba tidak dapat membawa manfaat buat dirinya sendiri dan tidak dapat menolak mudarat terhadap dirinya kecuali sebatas apa yang dikehendaki oleh Allah. Maka Allah memberinya petunjuk agar dia minta kepada-Nya setiap waktu.
Komentar
Posting Komentar